Di tengah riuhnya lalu lintas Kota Pekanbaru, Riau, rutinitas pagi setiap harinya terasa berbeda saat melangkahkan kaki ke sebuah kedai bernama Cafe Ruang Setara. Tidak ada teriakan lantang barista yang mengulang pesanan pelanggan. Sebagai gantinya, para tamu disambut oleh kehangatan senyum dan kelincahan isyarat tangan. Di tempat inilah, inklusivitas bukan sekadar wacana manis di atas kertas, melainkan denyut nadi kehidupan nyata yang mendobrak batas stigma sosial.
Di balik mesin espreso, Yulia tampak begitu fokus dan cekatan. Jemarinya lincah menakar bubuk kopi, menyeduhnya, hingga menyajikannya dengan estetika yang sempurna. Yulia adalah seorang penyandang disabilitas tunawicara yang kini menemukan panggung kehidupannya. Bagi Yulia, mencari ruang untuk berdaya dulunya adalah jalan terjal yang dipenuhi pandangan sebelah mata.

"Dulu, dunia terasa sangat sunyi dan tertutup bagi saya. Sulit sekali mencari pekerjaan karena banyak yang meragukan kemampuan kami," ungkap Yulia melalui bahasa isyarat yang diterjemahkan, dengan mata yang berbinar menahan haru. "Tapi di Ruang Setara, saya tidak merasa berbeda. Saya merasa dihargai, dibutuhkan, dan akhirnya bisa mandiri. Ini adalah rumah tempat kami diakui sebagai manusia yang berdaya."
Senyum mandiri yang kini terlukis di wajah Yulia tidak hadir secara instan. Ada campur tangan dan dedikasi luar biasa dari Imamil Usni, pengelola Cafe Ruang Setara. Menyadari tingginya penolakan dunia kerja terhadap kaum disabilitas, Imamil tergerak untuk meruntuhkan tembok tersebut. Bagi para pekerja di sana, Imamil lebih dari sekadar atasan; ia adalah mentor, pembimbing, sekaligus sosok orang tua yang penuh kesabaran.
Prosesnya sama sekali tidak mudah. Imamil membimbing teman-teman disabilitas ini dari nol besar. Ia mengajari mereka cara meracik minuman, menyajikan makanan, hingga yang paling berat: membangun kembali kepercayaan diri yang sempat hancur.

"Banyak dari mereka yang datang dengan rasa minder dan trauma penolakan," tutur Imamil dengan suara lembut. "Saya selalu meyakinkan dan membimbing mereka pelan-pelan. Nama 'Ruang Setara' kami pilih karena kami percaya setiap manusia berhak mendapat kesempatan yang sama. Kini, melihat mereka bisa mandiri bekerja dengan penuh martabat, hati saya rasanya penuh. Mereka tidak butuh dikasihani, mereka hanya butuh ruang untuk membuktikan diri."
Namun, napas panjang kemanusiaan di Cafe Ruang Setara ini tidak berhembus sendirian. Langkah Imamil dan kawan-kawan disabilitas mendapat sokongan kuat dari PT Pertamina Hulu Rokan (PHR). Lewat program tanggung jawab sosial (CSR), PHR tidak sekadar hadir memberi dana lalu pergi, melainkan memberikan pendampingan intensif untuk memastikan kemandirian ekonomi ini berkelanjutan.

Lidia Sari, Officer CID (Community Involvement and Development) PHR, menjadi saksi bagaimana transformasi ini terjadi. Menurut Lidia, program ini sangat sejalan dengan nilai kemanusiaan yang diusung perusahaannya.
"Ketika kami melihat dedikasi luar biasa dari Bu Imamil dan semangat juang teman-teman disabilitas di sini, kami tahu PHR harus hadir bergandengan tangan bersama mereka," jelas Lidia.

"Ini adalah komitmen kami untuk menciptakan ekosistem inklusif di Riau. Melihat Yulia tersenyum dan melayani pelanggan dengan percaya diri hari ini adalah bukti nyata bahwa keterbatasan fisik tidak akan pernah membatasi potensi seseorang jika diberikan kesempatan dan bimbingan yang tepat."
Kini, Cafe Ruang Setara telah menjelma menjadi monumen kecil di Pekanbaru. Monumen yang mengajarkan siapa saja yang datang bahwa di dalam keheningan, selalu ada semangat hidup yang menyala terang. Secangkir kopi racikan Yulia dan pelukan hangat bimbingan Imamil Usni mengingatkan kita: ketulusan dan kemampuan, pada akhirnya, tidak selalu membutuhkan suara untuk bisa disuarakan.
Penulis : Arpriyal
Editor : Ank


